JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim mengatakan, selain Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, nama Iwan Fals dan WS Rendra juga masuk dalam naskah soal ujian nasional (UN) Bahasa Indonesia tingkat SMA. "Memang nama tokoh disisipkan dalam soal UN karena sesuai standar penyusunan naskah soal dari BSNP, yang juga membuat kisi-kisi sebagai acuan tentang nama tokoh. Tapi kami tidak men-setting nama Jokowi masuk dalam soal. Toh nama lainnya ada Iwan Fals dan almarhum WS Rendra," ucap Musliar di Jakarta, Selasa (15/4/2014). Ia mengaku bahwa penemuan kasus penyisipan tokoh politik semacam ini terbilang baru. Maka dari itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) masih harus melakukan pendalaman kepada tim pembuat soal dalam waktu dekat. Hal senada disampaikan Furqon, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. "Sejauh ini pihak Kemendikbud sudah lakukan penyusunan soal, sesuai standar dan prosedur. Terkait kenapa nama Jokowi dan bukan tokoh lainnya, misal Prabowo atau siapa pun, itu masih kami telusuri," paparnya. Sebelumnya diberitakan, nama Jokowi ditemukan dalam naskah soal ujian nasional untuk Bahasa Indonesia tingkat SMA di wilayah Jakarta. Dalam soal berbentuk biografi itu, siswa ditanyakan soal keteladanan yang dapat dicontoh dari Jokowi.
Bangkitnya Difteri dari 'Kubur'
Grup WhatsApp beranggotakan segelintir ibu-ibu muda itu mendadak riuh. Penyebabnya, foto-foto balita dengan langit mulut berwarna putih memenuhi layar ponsel mereka. Si balita disebut terkena difteri. Penyakit yang bagi sebagian besar masyarakat Indonesia terdengar masih asing. Kini difteri dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Para ibu-ibu muda cemas bukan kepalang. Pasalnya, difteri tercatat sebagai penyakit menular dan mematikan. "Ngeri ya bun, saya jadi takut," kata salah seorang ibu menanggapi broadcast message yang beredar di grup-grup WhatsApp. Hingga 6 Desember 2017, Kementerian Kesehatan mencatat ada 20 provinsi yang melaporkan kasus difteri. Namun, dari 20 provinsi itu bukan satu provinsi semuanya terkena difteri, tapi ada beberapa kabupaten/kota yang melaporkan KLB. Kemudian di sebagian Kabupaten/kota tersebut KLB sudah tertangani dengan baik. “KLB sebenarnya warning bukan wabah, artinya setelah menemukan ini (kasus difteri) harus melakukan tinda...
Comments
Post a Comment